Aktual LineAktual LineAktual Line
  • Home
  • Kolom Sana-Sini
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Layanan Publik
Search
Technology
  • Lifestyle
  • Esai
  • Religi
  • Seni/Budaya
Health
Entertainment
  • Home
  • Kolom Sana-Sini
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Layanan Publik
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: Hangatnya Tradisi Osing dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Aktual LineAktual Line
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom Sana-Sini
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
Search
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sosial
  • Esai
  • Infrastruktur
  • Religi
  • Literasi
  • Layanan Publik
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Seni/Budaya

Hangatnya Tradisi Osing dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren

Aktual Line
Last updated: 08/11/2025 22:05
Aktual Line
Share
3 Min Read

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Malam Sabtu (8/11/2025), suasana Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, dipenuhi aroma kopi yang khas. Ribuan cangkir disiapkan warga dalam perhelatan Festival Ngopi Sepuluh Ewu, tradisi tahunan yang bukan sekadar soal menyeruput kopi, melainkan juga bentuk nyata dari nilai-nilai keramahtamahan Suku Osing.

Desa adat Kemiren memang dikenal kuat memegang ajaran leluhur. Salah satunya adalah sikap dalam menerima tamu dengan penuh kehangatan. Ketua Adat Osing, Suhaimi, menjelaskan bahwa masyarakat Osing selalu berpegang pada prinsip suguh, gupuh, lungguh.

“Suguh itu suguhan, setiap tamu wajib disambut dengan hidangan, walau hanya minuman. Gupuh berarti menyambut dengan antusias, bukan setengah hati. Sedangkan lungguh bermakna menyiapkan tempat duduk sebaik-baiknya bagi tamu,” jelasnya.

Nilai-nilai itu pula yang menjadi ruh Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Warga menyambut tamu dengan keramahan, menyediakan tempat duduk dan suguhan kopi di setiap rumah sepanjang jalan utama desa. “Ngopi sepuluh ewu ini adalah praktik langsung dari suguh, gupuh, lungguh itu sendiri. Kearifan seperti ini harus terus kita jaga dan wariskan ke anak cucu,” tutur Mbah Imik, sapaan akrab Suhaimi.

Menariknya, meskipun Kemiren bukan daerah penghasil kopi, desa ini kini menjadi destinasi favorit para penikmat kopi tradisional. Hampir setiap hari, kedai-kedai kopi di sana dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Ketua panitia acara, M. Edy Saputro, menyebut tahun ini pihaknya menyiapkan satu kuintal kopi robusta asli Banyuwangi untuk festival.

“Bubuk kopi itu kami bagi ke warga yang rumahnya berada di jalur utama desa. Setiap rumah akan menyiapkan tempat duduk dan suguhan bagi tamu yang datang. Kopinya pun disajikan dengan cangkir khas turun-temurun yang bentuknya unik, menambah kesan eksotis,” kata Edy.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut mengapresiasi festival ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh konkret perpaduan antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. “Festival ini adalah pemantik untuk memperkenalkan kearifan tradisi Osing di Desa Kemiren. Dari sini, muncul daya tarik wisata yang bernilai ekonomi,” terangnya.

Pemkab Banyuwangi, lanjut Ipuk, akan terus mendorong inisiatif serupa di berbagai wilayah. Ia menilai, kreativitas masyarakat seperti ini bisa memberi manfaat besar bagi ekonomi lokal. “Tidak hanya di Kemiren, semangat semacam ini perlu kita sebarkan ke banyak desa di Banyuwangi,” tambahnya.

Dengan filosofi suguh, gupuh, lungguh yang hidup dalam setiap cangkir kopi, Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar perayaan. Ia adalah refleksi dari jati diri masyarakat Osing—ramah, terbuka, dan penuh rasa hormat pada siapa pun yang datang bertamu. (tim)

You Might Also Like

Usai Survei, Panitia Putuskan UIMSYA Blokagung sebagai Tuan Rumah Konfercab PCNU Banyuwangi 2026

Banyuwangi Dinilai Layak Menjadi Poros Industri Sinema Indonesia

Hujan Lebat Sebabkan Sejumlah Sungai Meluap, Pemkab Banyuwangi Lakukan Penanganan Cepat

O, Setan Iki

Pembalap Latvia Kuasai Banyuwangi BMX Supercross 2025, Atlet Indonesia Tampil Kompetitif

TAGGED: Aktual Line, budaya banyuwangi, Desa Kemiren, festival kemiren, festival kopi, Ipuk Fiestiandani, kopi banyuwangi, ngopi sepuluh ewu, Suku Osing, Tradisi Osing, wisata budaya

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Keteladanan Kalapas Banyuwangi: Membajak Sawah Bersama Warga Binaan
Next Article Car Free Day Banyuwangi Makin Hidup dengan Layanan Kesehatan Gratis
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


- Advertisement -
Ad image

Latest News

Warga Binaan Hindu Lapas Banyuwangi Rayakan Hari Raya Kuningan dengan Khidmat
Religi 30/11/2025
Polisi Sigap Bantu Warga Supiturang yang Rumahnya Tertutup Material Semeru
Peristiwa 29/11/2025
MTsN 4 Banyuwangi Bekali Siswa Keterampilan Menulis Opini Sejak Dini
Literasi 28/11/2025
Ipuk Jelaskan Strategi Inflasi Banyuwangi Usai Raih TPID Berkinerja Terbaik 2025
Pemerintahan 26/11/2025
  • Lifestyle
  • Esai
  • Religi
  • Seni/Budaya
  • Features
  • Sosial
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Opini
© 2024 - Aktual Line

Redaksi| PT. Media Aktual Line | www.aktualline.com

Halo

Masuk di akun anda

Lost your password?