Oleh: Moh. Husen*
DALAM sebuah hubungan pergaulan yang sudah sangat dekat, sebuah kata yang menurut pandangan umum merupakan ejekan, bisa menjadi kata yang menggembirakan, bahkan menyenangkan jika kata tersebut diucapkan kepada mereka yang memang sudah akrab satu frekuensi.
Seorang suami istri yang begitu karib, semua kata menjadi indah, bahkan ilmu. Kalau seorang suami diejek istrinya: “O, setan iki….” Bagi suami yang telah menyatu dengan istrinya, kata setan disitu bukan makian, melainkan bukan hanya bikin ketawa, tapi justru sebuah ilmu yang berfungsi mengingatkan.
Bayangkan, betapa bahayanya seorang suami yang merasa dirinya adalah malaikat yang suci, merasa bersih, merasa paling pintar, sok agamis, selain ia adalah manusia salah semua. Bukankah masih mending jika ia merasa dirinya masih setan, masih kotor sehingga ada perasaan perlu meningkatkan diri.
Dalam kenyataan hidup yang kita jalani, benar-salahnya sebuah kata sering kali perlu memperhatikan pada ruang yang ia ucapkan, pada siapa yang menerimanya, dan pada suasana batin yang melingkupinya. Sebuah kata bisa menjadi pedang yang menusuk, tapi juga bisa berubah menjadi pelukan kedekatan—semuanya tergantung pada tempat dan situasinya.
Di ruang privat keluarga yang penuh situasi kehangatan canda tawa, panggilan “setan” bisa menjadi alarm kultural agar seseorang tidak kebablasan. Namun di ruang yang lain, dengan nada yang berbeda, kata itu mungkin menjadi peluru penghinaan yang melukai. Maka benar-salahnya bukan pada kata itu sendiri, tetapi pada frame hubungan antar manusia yang membingkainya.
Seseorang pernah berkata bahwa kata itu seperti air. Ketika dituangkan di gelas, ia menjadi minuman. Ketika tumpah di tanah, ia hanya membuat becek. Begitu pula kata-kata: di tangan orang yang hatinya fresh, ia menjadi perekat yang menyenangkan; di tangan orang yang hatinya sakit, ia bisa menjadi alat untuk merendahkan.
So, marilah kita ingat-ingat kembali kata-kata “kotor” yang masih sering berseliweran secara kultural di lingkungan kita. Lihatlah, betapa kata-kata tersebut jangan-jangan memang menjelaskan secara terang-terangan siapa kita, agar kita tahu diri dan rendah hati.
Peradaban kita memang tinggi. Dan karena kita kurang dekat dari bergaul dengan para pencuri, maka tatkala mereka tertangkap aparat penegak hukum, mulut kita tidak spontan berucap kepada mereka: o, setan iki, atau o, bajingan.
Meskipun jangan lupakan kalimat “puitis populer” ini: sesama setan dilarang saling menghujat. (***)
Banyuwangi, 17 November 2025
*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.
